Usaha Mikro Kecil Menegah (UMKM)

Pada era revolusi industri 4.0 saat ini. Seluruh negara berlomba untuk bersaing dalam kemajuan dan menciptakan inovasi agar mampu bersaing di dunia internasional. Indonesia sendiri telah berusaha untuk menyesuaikan keadaan menjadi negara yang menggunakan teknologi revolusi industri 4.0. Era dimana analog menjadi digital serta pesatnya kemajuan internet dan teknologi. Era revolusi industri 4.0 beberapa dekade ini sedang “meledak” hal tersebut ditandai dengan munculnya pembaharuan disegala bidang kehidupan tak terkecuali Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang merupakan industri yang hampir digeluti oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia.

Keberadaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tidak dapat dihapuskan ataupun dihindarkan dari masyarakat saat ini. Karena keberadaannya sangat bermanfaat dalam hal pendistribusian pendapatan masyarakat. Selain itu juga mampu menciptakan kreatifitas yang sejalan dengan usaha untuk mempertahankan dan mengembangkan unsur-unsur tradisi dan kebudayaan masyarakat setempat.

Di Indonesia, definisi UMKM diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2008 tentang UMKM. Pasal 1 dari UU terebut, dinyatakan bahwa Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memiliki kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam UU tersebut.

Kota Batam sendiri yang sebagai kota industri menarik minat banyak orang dari luar pulau Batam, pada tahun 2020 penduduk Kota Batam mencapai 1.157.882 jiwa, dengan kepadatan 1.206,13 jiwa/km. UKM mempunyai peranan strategis dalam penyerapan tenaga kerja, terbukti pada waktu bangsa Indonesia mengalami krisis yang terjadi beberapa waktu lalu, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lebih tangguh dalam menghadapi realita tersebut, sedangkan usaha yang berskala besar mengalami stagnasi bahkan berhenti aktifitasnya.

Badan Pengusaha Batam (BP) sebagai pengelola kawasan perdagangan bebas mulai menaruh harapan kepada sektor UMKM, BP Batam melihat peluang dengan cara mengembangkan sektor pariwisata di Batam dan menarik banyak wisatawan untuk berkunjung dan berbelanja di Batam. Sebagai langkah awal, BP Batam mulai menggelar rangkaian acara pariwisata sepanjang tahun

Salah satu harapan besar yang menjadi tolak ukur kemampuan UMKM menopang perekonomian adalah acara pemecahan Rekor MURI untuk penari terbanyak, yakni Batam Menari yang digelar pada tanggal 8 April 2019 lalu. Sebanyak 200 pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) berpartisipasi dalam acara tersebut. Mereka menjual produk-produk terbaiknya, mulai dari makanan, minuman, kerajinan tangan dan lainnya (Lubis, 2018).

Maka dapat dilihat petumbuhan UMKM di Kota Batam terus mengalami peningkatan. Hal ini mencerminkan tumbuh dan berkembangnya aktivitas masyarakat dalam membangun potensi ekonomi melalui kegiatan usaha produktif. Dari kegiatan industri yang berkembang baik di sektor formal maupun non formal dan berkembangnya sektor perdagangan baik barang maupun jasa menunjukkan terus meningkatnya pelaku-pelaku bisnis dari Usaha Mikro Kecil menengah (UMKM) di Kota Batam. Hal ini menunjukkan potensi UMKM akan menjadi pilar bagi pertumbuhan dan perkembangan ekonomi di wilayah Kota Batam. Berikut kami sajikan dalam bentuk table data UMKM Kota Batam dari 2016-2020 :

Tahun

Jumlah Pelaku Usaha

2016

730

2017

775

2018

782

2019

695

2020

555

 

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Batam, Suleman Nababan, mengatakan, jumlah tersebut ini untuk semua jenis UMKM. Mulai dari yang mikro, kecil hingga menengah. Bahkan, ia memprediksi masih banyak UMKM, terutama jenis mikro yang belum terdata.

Beberapa waktu lalu, Suleman juga menjelaskan Kota Batam sudah memiliki gedung pusat layanan usaha terpadu koperasi mikro kecil menengah (Plut-KUMKM). Gedung yang berada di kawasan Golden City Bengkong itu telah berdiri sejak 2018 lalu. Gedung itu berfungsi untuk pembinaan UMKM di Batam agar lebih maju.